Pengelolaan lingkungan hidup di kawasan perkotaan seperti Kota Mojokerto merupakan tugas besar yang memerlukan sinergi banyak pihak. Melalui situs resmi institusi, dlhkotamojokerto.id, Dinas Lingkungan Hidup Kota Mojokerto dengan situs https://dlhkotamojokerto.id/ perencanaan dan program-program untuk mewujudkan visi kota yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. Namun demikian, berbagai tantangan nyata menghalangi kelancaran implementasi.
Artikel berikut akan menguraikan tantangan-utama yang dihadapi DLH Kota Mojokerto dalam mengelola lingkungan hidup, sekaligus menawarkan refleksi atas apa yang diperlukan untuk mengatasinya.
1. Tantangan Sumber Daya Manusia dan Kapasitas Organisasi
Salah satu kendala utama yang diidentifikasi dalam dokumen strategis adalah terbatasnya fasilitas operasional, jumlah dan kualifikasi pegawai, serta kurangnya penegakan hukum lingkungan. DLH Kota Mojokerto mencatat bahwa faktor kelemahan organisasi seperti “kurangnya fasilitas kerja” dan “kurangnya sarana operasional lapangan” menjadi hambatan signifikan.
Keterbatasan ini berdampak pada efektivitas pelaksanaan program pengelolaan sampah, pemantauan kualitas lingkungan dan edukasi publik. Tanpa SDM dan sarana yang memadai, upaya perbaikan lingkungan sulit mencapai target yang telah ditetapkan.
2. Rendahnya Partisipasi dan Kesadaran Masyarakat
Lingkungan kota yang bersih dan sehat sangat bergantung pada peran aktif masyarakat. Namun laporan mengindikasikan bahwa tingkat partisipasi publik dan pemahaman terhadap pengelolaan lingkungan masih rendah.
Contoh konkret: dalam misi strategis DLH Kota Mojokerto disebutkan bahwa salah satu fokus adalah “meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang baik”.
Ketika kesadaran warga belum merata, praktik-praktik seperti pemilahan sampah rumah tangga, pengurangan sampah plastik, atau menjaga Ruang Terbuka Hijau (RTH) belum menjadi kebiasaan umum — dan hal ini memperlambat kemajuan lingkungan.
3. Tekanan Perkembangan Wilayah dan Ruang Terbuka Hijau yang Terbatas
Kota Mojokerto menghadapi tantangan fisik dan tata ruang yang cukup serius. Menurut kajian, luas Ruang Terbuka Hijau publik di Kota Mojokerto hanya sekitar 1,57% dari luas wilayah jauh di bawah standar ideal.
Pengembangan wilayah yang cepat dan perubahan penggunaan lahan dari terbuka menjadi terbangun menyebabkan RTH semakin terdesak.
Dengan kepadatan penduduk dan pembangunan yang pesat, menjaga keseimbangan lingkungan seperti menjaga kualitas udara, air, dan lahan menjadi semakin sulit. DLH Kota Mojokerto harus berhadapan dengan modal lahan yang semakin sempit dan kenaikan permintaan ruang kota.
4. Pengelolaan Sampah dan Limbah yang Masih Menjadi Tantangan
Salah satu target strategis DLH adalah pengelolaan sampah dan limbah secara optimal. Namun dalam laporan dan dokumen internal disebutkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi prioritas dengan hambatan-hambatan seperti sistem pengumpulan yang belum merata, teknologi pemrosesan yang terbatas, dan pembiayaan yang belum cukup.
Meskipun ada capaian berarti misalnya pengurangan timbulan sampah hingga dekat 50% sebagaimana dilaporkan oleh kementerian lingkungan untuk Kota Mojokerto. tetapi tantangan besar adalah menjaga kesinambungan pengelolaan dan memastikan pengurangan sampah bukan hanya angka, tetapi berdampak nyata di lapangan.
5. Kebijakan, Penegakan dan Pengendalian Lingkungan
Tantangan lainnya berada pada aspek regulasi dan penegakan lingkungan hidup. Dokumen menyebutkan bahwa penegakan hukum lingkungan masih lemah.
Padahal, tanpa pengendalian yang kuat, industri dan aktivitas pembangunan bisa tetap menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran udara, air dan kerusakan lahan. DLH Kota Mojokerto memiliki program pemantauan kualitas udara dan air yang terencana. Namun implementasi di lapangan seringkali terkendala oleh kapasitas dan kerjasama lintas-sektor.
6. Pendanaan dan Teknologi
Dalam dokumen laporan kinerja, tercatat bahwa realisasi anggaran dan efisiensi menjadi aspek penting dalam operasional DLH. Keterbatasan pendanaan berdampak pada pengadaan peralatan pemantauan lingkungan yang mutakhir, teknologi pengelolaan sampah dan limbah, serta infrastruktur RTH yang memadai.
Tanpa investasi yang cukup dalam teknologi dan fasilitas, program-program yang dijanjikan sulit diwujudkan dengan kualitas tinggi dan jangka panjang.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, DLH Kota Mojokerto melalui platform dlhkotamojokerto.id telah merumuskan visi yang jelas dan langkah-strategis untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, hijau dan berkelanjutan. Namun, tantangan yang dihadapi cukup signifikan: dari aspek sumber daya dan kapasitas organisasi, partisipasi masyarakat yang masih perlu ditingkatkan, tekanan pembangunan perkotaan yang menggerus Ruang Terbuka Hijau, hingga pengelolaan sampah, penegakan regulasi dan keterbatasan pendanaan.
Untuk mengatasi tantangan-ini, diperlukan pendekatan holistik dan kolaborasi intensif antara pemerintah kota, masyarakat, sektor swasta dan lembaga lingkungan. Dengan demikian, bukan hanya visi yang disusun di atas kertas, tetapi hasil nyata yang dapat dilihat dan dirasakan oleh warga Kota Mojokerto dalam kehidupan sehari-hari.