Kebersamaan para penggerak perubahan kembali terjalin dalam agenda Halal Bihalal dan Silaturahmi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Rakyat Jawa Timur yang berlangsung di Trillium Ballroom Surabaya, Sabtu (25/4/2026). Lebih dari sekadar tradisi pasca-Ramadan, pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi, menyatukan visi, serta menegaskan kembali arah perjuangan menuju Indonesia yang lebih adil dan berkeadilan sosial.
Hadir dalam kesempatan tersebut tokoh inspiratif sekaligus Anggota Kehormatan 001 Gerakan Rakyat, Anies Baswedan, yang memberikan pandangan mendalam mengenai pentingnya membangun gerakan yang terstruktur, disiplin, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas. Ia menekankan bahwa perubahan besar tidak pernah bertumpu pada satu figur, melainkan lahir dari kerja kolektif yang rapi dan terorganisir.
Dalam paparannya, Anies menggarisbawahi bahwa kekuatan sebuah gerakan sangat ditentukan oleh kemampuan anggotanya untuk bergerak dalam satu barisan yang solid. Ia membedakan secara tegas antara sekadar “kerumunan” dan “barisan”. Menurutnya, kerumunan hanya menggambarkan kumpulan orang tanpa arah yang jelas, sementara barisan mencerminkan kesatuan langkah yang memiliki tujuan bersama.
“Ketika sebuah kelompok mampu berubah dari kerumunan menjadi barisan yang teratur, maka di situlah kekuatan sejati terbentuk. Namun jika tidak, maka ia hanya akan menjadi kumpulan yang tidak memiliki daya dorong perubahan,” ungkapnya. Pesan ini menjadi penegasan bahwa disiplin organisasi, kepatuhan terhadap keputusan bersama, serta konsistensi dalam menjalankan strategi merupakan elemen penting dalam membangun gerakan yang efektif.
Lebih lanjut, Anies menekankan bahwa gerakan yang kuat harus berakar pada sikap rendah hati dan keterbukaan. Ia mengajak seluruh jajaran Gerakan Rakyat untuk tidak terjebak dalam sekat-sekat kelompok yang sempit, melainkan terus memperluas jangkauan silaturahmi dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Menurutnya, perubahan sosial tidak dapat dicapai dengan eksklusivitas, melainkan dengan inklusivitas yang merangkul semua pihak. “Jangan membatasi diri pada lingkaran yang itu-itu saja. Teruslah membuka diri, menjalin komunikasi, dan membangun jembatan dengan berbagai kelompok masyarakat,” tegasnya. Dalam pandangan ini, kekuatan gerakan justru tumbuh ketika mampu hadir di tengah keberagaman dan menyatukan berbagai perbedaan dalam satu tujuan bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Anies juga menyampaikan gagasan penting mengenai makna keadilan sosial. Ia menekankan bahwa keadilan sosial tidak boleh dipersempit hanya sebagai bentuk bantuan sosial atau distribusi sementara kepada masyarakat. Lebih dari itu, keadilan sosial merupakan upaya sistematis untuk memperbaiki struktur dan aturan main dalam kehidupan berbangsa agar setiap warga memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang.
“Keadilan sosial bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi bagaimana kita memastikan bahwa sistem yang ada memberikan peluang yang adil bagi semua orang untuk maju,” jelasnya. Pandangan ini menegaskan bahwa perubahan sejati harus menyentuh akar sistem, bukan hanya permukaan masalah.
Salah satu isu yang menjadi perhatian serius adalah sektor pendidikan. Anies menyoroti bahwa masih banyak anak di Indonesia yang menghadapi hambatan untuk melanjutkan pendidikan akibat tingginya biaya. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan besar dalam mewujudkan akses pendidikan yang merata dan inklusif.
Ia menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi hak fundamental yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Negara, dalam pandangannya, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada anak bangsa yang terputus pendidikannya hanya karena keterbatasan ekonomi.
Selain akses pendidikan, ia juga menyoroti pentingnya kesejahteraan guru sebagai fondasi utama kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, guru adalah ujung tombak dalam mencetak generasi masa depan, sehingga kesejahteraan mereka harus menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan.
“Jika ada kemauan politik yang sungguh-sungguh, maka negara mampu menghadirkan sistem pendidikan yang merata sekaligus menjamin kesejahteraan guru yang layak,” ujarnya dengan penuh penekanan. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan membutuhkan komitmen politik yang nyata, bukan sekadar wacana.
Acara Halal Bihalal dan Silaturahmi ini turut dihadiri oleh jajaran penting Gerakan Rakyat, termasuk Ketua Umum Sahrin Hamid, Sekretaris Jenderal Muhammad Ridwan, Bendahara Umum Prita Subono, serta perwakilan Dewan Pimpinan Pusat dari Jakarta. Hadir pula Ketua DPW Jawa Timur Misranto bersama seluruh pengurus daerah dan DPD se-Jawa Timur.
Momentum ini menjadi lebih dari sekadar pertemuan organisasi. Ia menjadi simbol penguatan komitmen kolektif untuk terus melangkah dalam satu arah perjuangan yang jelas. Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, konsolidasi seperti ini menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa setiap langkah gerakan tetap terarah, solid, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dipupuk, Gerakan Rakyat diharapkan mampu menjadi kekuatan sosial yang tidak hanya hadir sebagai wacana, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia.